Bayangan Awan

Daily, Traveling, Hobby

Powered by Blogger.
Setelah gagal mencari tiket bus di H-1 keberangkatan, gue dan rombongan cuma bisa berdoa buat besok –long weekend April 2019. 
Tips: beli tiket dari jauh-jauh hari yaaa, apalagi kalau pergi saat long weekend. Tapi terserah sih.

Rombongan disini ada:
Upeg, gue, ka Fira

Keesokan malamnya, setelah antri –yang gak tau kapan berakhirnya, akhirnya kita dapat tiket ke Wonosobo seharga 200k sekali jalan –sekitar 2x lipat dari Sinar Jaya. Luar biasa mahal –buat gue, but we had no other option.


Gak lama setelah kita naik, bus pun jalan. Syukurnya kita dapat duduk di kursi tiga, dan gue duduk di samping jendela! Bus nya cukup nyaman ditambah kita berangkat malam, bikin pas banget buat kita untuk kumpulin tenaga aka tidur, setelah seharian kerja.

Gue yang termasuk orang yang bisa cepet tidur, sering merasa gak tenang kalo tidur di perjalanan, entah di kereta ataupun bus. Tapi bus agak lebih parah, karena gak seperti kereta yang punya jalur –tetap- nya sendiri, bus punya kondisi jalannya yang gak berbeda-beda. Kadang jalan lurus, naik, turun. Itu yang lumayan bikin ngeri. Akibatnya gue gak bisa tidur pules dan sering kebangun. Oke ini gak penting, tapi adakah yang sama seperti gue juga?


Sekitar jam 9 pagi kita sampai di Terminal Mendolo Wonosobo, kita langsung cari warung untuk sarapan. Dilanjutkan dengan beli barang yang belum ada, dan naik. 

Wait! Itu rencananya, kenyataannya kita harus nungguin satu orang dulu seharian, karena dia berangkat sendiri dari Tanggerang, yang katanya berangkatnya selang satu jam dari kita.

Tips: kalau janjian sama orang, menurut gue akan jauh lebih baik kalo berangkatnya bareng dari meeting point yang sama, biar gak ada saling tunggu. Tapi terserah sih.
FYI, Kita stay seharian di Masjid Yamp Nurul Falah. Nyaman banget, deket buat sholat, ada kamar mandi dan deket warung makan juga.


Orang yang kita tunggu –namanya Andra- akhirnya datang, udah sore banget. Tapi karena ada sedikit problem dan beberapa urusan lain, kita baru berangkat ke basecamp Patak Banteng setelah magrib.

Gara-gara perkenalan Andra dengan sesama penumpang di bus yang akan ke Prau juga, rombongan kita nambah banyak orang. Gue gak hitung berapa, tapi mobil Tiger (Tiga Per Empat) yang kita tumpangin penuh dengan orang dan carrier. Banyak yang gak bisa duduk tapi untungnya para cewek dapat tempat duduk. Waktu itu kita bayar sekitar 25k/ 30k.

Jalan semakin naik, makin sejuk, badan berasa makin dingin.

Basecamp yang kita tinggalin nyaman banget, namanya Basecamp Mbok Ndut Ada banyak kamar buat para pendaki istirahat atau tidur, beberapa kamar mandi, dan ngecas gratis, serta yang paling penting adalah ada banyak makanan yang bisa kalian beli.

Sampai di basecamp gue makan untuk yang ketiga kalinya di hari itu –sebelumnya breakfast dan lunch. Gue sadar banget harus jaga stamina untuk naik gunung, apalagi saat itu belum genap sebulan gue habis diopname karena dbd+tipes.


Gue gak pernah nyangka akan mendaki di malam hari apalagi di pendakian pertama gue. Selesai beres-beres di basecamp lalu berangkat mendaki sekitar jam 9 malam –setelah tentu saja berdoa. Kita jalan dengan bantuan senter yang kita bawa. Tapi senter gak bisa membantu banyak, kita cuma bisa lihat trek –yang minim bonus.

Walaupun malam dan gelap banget-banget, ada banyak pendaki, jadi gue gak merasa horror sama sekali. Yang gue rasain cuma capek dan nafas yang kayanya udah abis, wkwk.

Jadi, total rombongan berubah jadi 6 orang, 3 cewek dan 3 laki-laki. Mereka yang lelaki ini udah sering banget mendaki dan pasti udah banyak melalui masalah dibanding kita, terutama gue satu-satunya noob. Itu bikin gue tenang setelah tau adanya kemungkinan gak dapet space untuk bangun tenda di puncak.

Saat kita lunch, bapak pemilik warungnya bilang kalau kemungkinan gak akan ada space di puncak dan gak akan ada transport juga kalau kita pergi terlalu sore.
Tapi gak tau karena hoki atau emang bapaknya cuma nakut-nakutin aja –bukan suudzon, kita dapat kok angkutan ke basecamp pas magrib. Mungkin karena long weekend jadi agak berbeda dari biasanya?
Belum sampe pos satu, tapi gue udah capek banget, karena jaraknya lumayan jauh dan nanjak terus. Napas gue pendek-pendek dan gak teratur. Padahal kita uda beberapa kali istirahat.

Setelah istirahat –lagi- sebelum sampai pos 1, bang ipul sama temennya –yang gue gak tau namanya- jalan duluan. Mereka nawarin para cewek untuk dibawain carriernya. Gue menolak karena gue –mau- percaya gue pasti bisa, tapi beberapa menit setelah mereka pergi gue menyesal nolak tawaran mereka wkwk.

Mereka jalan duluan untuk cari space dan bangun tenda. Karena pasti kalau tungguin para cewek –yang banyak berhentinya- bakal gak nyampe-nyampe dan kita bener-bener gak akan dapat tempat.
Andra yang bertugas buat ngawal para cewek. Dia cukup sabar nungguin kita. Gue yang setiap 5 menit berhenti, Ka Fira yang sampe ketiduran di trek.

Setelah pos ke 3, cacingan really made me crazy, kaya gak ada ujungnya.


Sekitar jam 2 pagi, kita sampai di camp area dan langsung pangil-pangil bang Ipul, beberapa kali kok gak ada jawaban juga? Tapi maklum banget karena disana ada banyak tenda dan ratusan orang, jadi ga bisa langsung ketemu. Setelah kita coba lagi dan lagi, dan keliatan ada sinar lampu. Alhamdulillah ketemu. Tapi ternyata mereka cuma dapat space untuk bangun satu tenda. I had no choice. I honestly was very afraid of will bad things gonna happen? But thankfully nothing bad happened, everything was okay.

Setelah dinner -atau early breakfast- yang lumayan fancy, kita tidur. Gue tidur dengan pulas. Baru beberapa jam tidur, gue dibangunin untuk lihat sunrise! Angin pagi nya itu menyakitkan banget. Gak calm dinginnya.
But here, my best sunrise so far in my life.



Bang Ipul ajak kita buat keluar tenda dan cari spot yang oke buat foto-foto. Ka Fira gak ikut karena dia gak kuat dengan dinginnya pagi itu.

I can’t describe how beautiful that morning. Everything is paid off. I was speechless. I foget about all my problems in life for a while. 

Baru setelah agak siang, kita semua keluar dan foto bareng. 






Honestly, gue gak nafsu makan sama sekali, karena perut gue gak enak setiap kali kedinginan. Saat yang lain semangat banget buat masak, gue cuma liatin aja dan mikir, apa bakal habis itu makanan?




Selesai breakfast dan cuci piring kita beres-beres untuk segera turun. Kita turun ber4 via Patak Banteng lagi dan kita berpisah dengan abang-abang itu.


  
Honestly, gue belum puas berada disana. Kita baru sampai jam 2 pagi, dan harus balik ke bawah jam 9. It was really a short time! Tapi mau gimana lagi, kita udah beli tiket bus ke Bekasi yang berangkat jam 4 sore. Takut terlambat kalo gak secepatnya turun.



Saat kita turun, gue gak nyangka bisa liat pemandangan ini di gunung. Antriannya panjang banget. Kita berbelok ke arah kiri, ikutin orang.

Trek sebelah kiri lebih terjal, walaupun gue bisa lihat pemandangan yang kece banget. Gue berkali-kali jatuh. Lumayan frustasi, malu dan sakit.



Di depan gue ada cowok lagi gandeng tangan cewek, cowoknya perhatian banget. Gue gatau sih itu ceweknya atau temen aja. Terus karena liat gue jatuh terus, dia nawarin gandeng tangan gue wkwk. Gue mau mau aja, karena gue butuh itu wkwk. If you read this, makasih ya mas.


Gak lama setelah lewatin jembatan yang bikin dag-dig-dug ini, kita kembali ke trek utama. Gue merasa walaupun menurut gue turun lebih susah, tapi turun makan waktu lebih sedikit daripada naik.



Saat kita menuju basecamp setelah keluar dari trek, hujan turun deres banget. Syukurnya udah sampe. Gak kebayang kalau hujan-hujanan di trek.

Setelah cukup bersih-bersih –walaupun gak sempet mandi, kita naik mobil Tiger lagi untuk ke terminal.

Waktu nya mepet banget, hampir setengah 4 tapi kita belum naik bus. Tapi ternyata, bus baru jalan sekitar jam 5 atau 5:30, I don’t remember tho.


Impression of me being pendaki noob:


• I met kind people

Walaupun sebelumnya belum pernah kenal, tapi rela bantu satu sama lain. Kasih informasi, saran bahkan dimasakin makanan.

• I have to be more patient 

Yes, harus bisa banyak belajar untuk lebih calm saat mengalami berbagai situasi

• It’s not joke, hiking is so tiring

Naik dan turun punya kesulitan sendiri. Saat naik butuh tenaga lebih kuat buat melangkah, dan nafas yang teratur. Saat turun butuh tenaga juga buat ngerem. Dan harus siap buat jatuh berkali-kali seperti gue lol.

• I don’t mind doing it again

Yes! Walaupun setelah mendaki gue terserang pegal-pegal linu beberapa hari, tapi gue selalu dihantui rasa rindu buat balik lagi.



#WheretoHike


by Nanda FW

hello! how're you doing?

an update from me, i've been recently into Day6 song. my friend, veby recommended me months ago. tried to listen their song, then ì˜ˆë»¤ì–´ immediately stole my heart. my first impression was quite good but then i didn't listen to it anymore, because a couple weeks later i did't listen to song that much.

until i saw kak @bellindap's post on ig saying that Day6 song was good. i agreed as i already listened to one of their song. i then remembered 예뻤어 and play it on youtube. i fell in love with that song again. i don't know why, but this time is much deeper. i repeated and repeated that song, then i really loved their vocal and the melody, like i can fell the hurt feeling of broken heart. now i can't sop listening to that song yet. and other Day6 songs are no joke!

i hope Day6 can take a rest well while hiatus and back with better condition.

i also listened to FBI (Faiz and Bellinda Insights) podcast. their insights really helps me to think from different views. they two are definetly so smart. then listening to people doing deep conversation really enlighten my thought and give me new energy.

Kuala Lumpur, 26 Agustus 2019


Rencana gue untuk beli sovenir di Pasar Seni harus gagal, karena Pasar Seni baru buka jam 10. Di hari terakhir ini gue gak pergi sama sekali. Flight gue jam 13.45 tapi sekitar jam setengah 11 gue udah siap check in. Lebih baik in time sih daripada telat, tapi ini gue kelewat rajin sebenernya. Ditambah pula flight nya delay.  Perjalanan dari KL ke KLIA2 by bus saat itu kurang dari satu jam, i guess. Sebelum ready di gate, gue isi perut dulu di airport dan beli subway -yang sampe Bekasi uda gak berbentuk- pesanan si Veby . Gue gatel banget masuk sebuah minimart buat cari cokelat lagi, dan beli beberapa. 

Luckily gue dengan mudahnya check in, lewatin imigrasi dan masuk gate di bandara KLIA2. Walaupun jalan menuju gate lumayan jauh. Carrier gue yang hampir 7kg pun gak ditimbang. 

Ahhh! Good job Nanda! Even masih banyak kurangnya dalam perjalanan solo pertama ini, but I did it! 


Baca Lengkap Cerita gue di Malaysia disini...


Preparation
Day 1
Day 2
Must Visit Place in KL

Malaysia, 25 Agustus 2019

"Karena hari itu adalah encore traveling gue, siap-siap panjang ya baca post nya."


Berusaha mengikuti iten yang udah gue buat, gue bangun sangat pagi. Gak gue sangka, ternyata jam 6 di Kuala Lumpur saat itu gelap banget. Ditambah pula, pagi itu hujan turun lagi. Gue  yang berencana untuk naik kereta pertama ke Batu Caves, harus nunggu karena gue gak bawa payung *nangis*

Gue keluar hotel sekitar setengah 7 setelah hujan mulai reda. Then, jalan menuju Pasar Seni St untuk transit ke KL Sentral. At that time, i really enjoyed my life, walk alone enjoy the silent morning city.

Sepengetahuan gue yang limit ini, Pasar Seni St gak ada kereta (KTM) untuk ke Batu Caves, so gue akan naik dari KL Sentral. Tapi ternyata Pasar Seni St terhubung dengan jembatan ke Kuala Lumpur St -ada jalur KTM nya-

Bete!! Gue masih kurang research nya >.<

Jembatan yang menghubungkan Pasar Seni St & Kuala Lumpur St

Kereta ke Batu Caves ada di Platform/ Peron 1. Remember! Ada dua rute KTM di Platform 1. Saat itu pun jujur gue bingung dan takut salah naik. Yang penting pantau terus schedule board nya. Sayangnya KTM tidak tepat dengan jadwalnya, ngaret.

Gue ga expect kereta nya akan sekece ini. Gerbong nya bersih dan nyaman. Kursi nya empuk, AC nya oke. Untuk ongkos sekali jalan RM 2.5, ini sih kelewat mewah.

-

Sekitar setengah 8 gue sampai di Batu Caves St. Happy! Ternyata disana masih gerimis dikit. Saat itu sedang ada renovasi di salah satu area dan patung. Sebelum makin siang makin rame, tanpa pikir lama-lama gue langsung jalan ke patung Murugan -list tempat wajib gue liat langsung- yang keliatan banget.

Eh ternyata gue nyangkut dulu di taman sebelah Patung Murugan. Di internet fotonya bagus-bagus. Aslinya memang cukup cantik, tapi gue gak bisa ambil angle yang bagus, karena lensa 35mm yang baru beberapa bulan gue punya belum didukung sama skill gue.



Dan akhirnya tercapai juga wish gue untuk melihat patung ini secara langsung. Saat itu masih terbilang pagi loh, tapi Batu Caves udah lumayan rame.


Gue mencari seorang korban untuk nolongin gue. Gue menemukan seorang mbak *yang sepertinya solo traveler juga karena doi sendirian* dan ask her politely untuk fotoin gue di depan patung ini. Thank you yak mba.


Gue decided buat naik tangga -yang banyak banget anaknya tapi colorful cantik ini- karena gue percaya gue bisaaaa! Penasaran juga ada apa di atas. Capek? Yo pasti.




Saat sampai di atas, jujur rasanya fresh banget. Udaranya bikin gue betah berlama-lama di dalam gua.  Untuk kalian yang mau ke Batu Caves, cobain taklukin ratusan tangga itu ya!! Worth the energy. Di dalam ada beberapa temple gitu, dan cantik karena warna warni. Selain banyak traveler, saat itu juga banyak orang yang sedang ibadah.





Cukup menikmati di dalam gua, gue turun dengan sangat hati-hati dan hampir jantungan saat gue sedang geser ke pinggir tangga untuk ikat tali sepatu, gue melihat ada seekor monyet yang sedang nangkring tepat di samping kiri gue. Alasan gue mau kesini pagi-pagi adalah untuk tidak bertemu dengan monyet yang banyak kata orang ngeselin ini.

Selain patungnya, temple yang cantik, udaranya yang adem banget, gue suka disini karena banyak burung di area bawah patung Murugan. Gue lari-larian biar burungnya terbang, tapi gue malah takut liat burung terbang di atas kepala gue hehe.

-

Setelah patung Murugan, gue interested untuk foto yang proper patung Ramayana karena gue susah dapet foto bagus dari luar karena terhalang gerbang. Randomly gue coba masuk dan ternyata ada fee nya RM 5, karena terlanjur tanya sama penjaganya dan itung-itung bantu warga sekitar, gue pun masuk dengan pede nya.


Zonk! Di dalam temple ini gak ada orang sama sekali. Cuma ada banyak patung yang bikin gue merinding. Tapi gue masih aja wonder untuk tetap jalan ke dalam *karena sayang udah bayar dan emang terang karena banyak lampu* then luckily gue bertemu satu pasangan patung manusia. Tapi mereka otw mau keluar. They said that there was no one inside. Whoaaaa! Gue pun juga perlahan jalan keluar.  Pengalaman yang lumayan horor. Tapi gue penasaran banget sama tangga -yang pasangan itu turuni- ada apa

-

Gue cabut ke KL lagi. Gue turun di Kuala Lumpur St, karena gue akan ke Masjid Negara yang letaknya berdekatan dengan station ini. Bangunan Station ini tua, gue suka. Old but gold. Oh iya, gue  salah pilih pintu keluar stasiun.
duh ini cantik banget
source google


Salah pilih exit stasiun lumayan berdampak buruk. Map di hp aktif, tapi gue tidak kunjung menemukan cara untuk sampai ke Masjid Negara. Lost, again. Gue jalan ke arah sana salah, gue balik arah dan pilih arah lain, baru ketemu celah buat nyebrang. Nyebrang nya juga agak horor, kendaraannya ngebut-ngebut. Takut beneran gue.

It's okay to be lost in your journey, that's the story, the experience! 

Tapi karena tersesat itu, gue gak sengaja nemu bangunan tua keren lagi, KTM Berhad yang letaknya bersebrangan dengan Kuala Lumpur Station.



Cukup cuci mata melihat bangunan tua yang cantik-cantik itu, gue cabut ke Masjid Negara yang ternyata letaknya di samping KTM Berhad.

-

Ada halaman yang cukup luas di depan masjidnya. Gue suka bangunan nya, cantik warna putih dan bermotif gitu. Gue masuk masjid dan feel fresh karena ada air mancur hehe.



Gue gak menghabiskan waktu yang lama di Masjid ini, karena gue akan langsung lanjut ke Dataran Merdeka lalu Masjid Jamek untuk sholat Zuhur. Jelas-jelas di maps dan gue juga udah paham kalo dari Masjid Negara ke Dataran Merdeka itu sekitar 1km, so jalan gak akan jauh. Tapi gue strick banget sama iten yang udah gue bikin untuk naik bus GoKL. 

Gue naik bus itu dan udah siap-siap banget akan turun karena emang deket dan gak akan lama. Gue tunggu dan tunggu, tapi ini bus gak kunjung berhenti di halte yang gue mau.

Saat itu kondisi gue berdiri menghadap ke arah kiri bus, dan jengjeng Dataran Merdeka ternyata ada di sebelah kanan -baru sadar setelah di Indo-

Muka gue panik dan dari situ ada cowo Pakistan yang senyum ke gue. Gue senyumin balik pasti. Doi nanya gue dari mana dan hal-hal basic lainnya. Gue yang udah panik jadi males ngeladenin dan gue juga kurang ngerti Melayu nya dia yang gak gue paham. Intinya gue bilang mau ke Dataran Merdeka dan doi kasih tau harus turun di halte berikutnya. Doi turun tapi gue engga karena gak mau mudah percaya. 

Akhirnya gue sampai di pemberhentian terakhir bus Red Line, Terminal Pekeliling which is udah deket sama Titiwangsa (!!!). Gue turun dan gue ketemu lagi sama cowo itu. Kok bisa woyy? Doi nyamperin gue ngajak makan, gue bilang gak mau dan doi maksa. Feeling gue gak enak. Doi minta nomer gue dan gue kasih aja *toh ntar bisa gue blokir*

At that time gue gabisa bersikap tegas, gue terlalu takut. Long story short, kita ke Dataran Merdeka bareng, karena itu alasan gue menolak makan sama doi. Kok bisa bareng? Karena gue yang ajak dia *gak waras* haha. Tunggu dulu, Dataran Merdeka pasti rame, so gue pikir Insyaallah akan aman . 

Oh ya, gue tanya petugas yang ada di terminal itu gimana ke Dataran Merdeka dan mereka suruh gue buat naik ke bus Red Line *lagi* yang ternyata dibawa oleh abang supir kece *tapi kayanya udah nikah deh*. 

-

Feeling gue gak  salah. Setelah turun kita jalan berdampingan *eakk, tapi jujur ini gue takut*, dia mepet-mepet ke gue *kezel* Gue yang sadar banget akan hal ini agak menjauh *pasti!* tapi dia mepetin lagi *arghhh*. Kita ngobrol tapi gak nyambung, gue gak ngerti Melayu dia, gue ngomong English dia gak ngerti *haduh* 

Sampai lah gue di Dataran Merdeka. Honestly i didn't enjoy it at all! Gue hanya foto seperlunya, mau keluarin kamera tapi takut. Padahal objectnya cantik banget.








Lanjut ke Masjid Jamek dan Alhamdulillah udah mau masuk Zuhur. Gue berusaha untuk tegas kalo abis sholat gue mau balik ke hotel, so kita harus pisah. Gue memisahkan diri ke tempat wudhu wanita dan gue liat ada 2 cewek, gue langsung sksd, karena wajah mereka sepertinya friendly. Ternyata betul, mereka adalah 2 kind girls from Negeri Sembilan.

Akma, Nanda, and Aini

Kita Sholat Zuhur bareng dan gue ikut mereke untuk explore Dataran Merdeka *lagi* Iten gue ancur gara-gara cowo itu.









Kita bertiga jalan bareng. Gue ikut mereka kumpulin stamp gitu. Kita lunch bareng juga di McD makan nasi lemak yeayy. Mereka baik banget asli. Bersyukur banget bisa kenal dan ngobrol bareng Akma dan Aini. Gue invite mereka untuk dateng ke Indonesia khususnya Jawa, Insyaallah gua akan jadi guide mereka.

Seletah dari McD kita berpisah, sedih gak bisa spend more time sama mereka. Gue jalan ke arah hotel gue, karena Akma dan Aini bilang mereka jalan dari Central Market ke Masjid Jamek gak terlalu jauh.

-

Gue mandi dan istirahat sebentar untuk lanjut ke Twin Tower *yeayyy*. Gue naik LRT dan turun di stasiun KLCC. Padahal sebenernya bisa naik bus GRATIS (!) GoKL dari Petaling Street!

Finally i am here





Setelah susah cari jalan, akhirnya gue sampai di KLCC Park. Bagus banget!!!! Ada playground, jogging track *dengan view Twin Tower*, swimming pool juga ada! Please Bekasi atau Jakarta adain area kaya gini juga.





Malam hari, ada pertunjukan dancing fountain. Cantik. Sejauh mata memandang, gue hanya melihat orang dengan keluarganya, teman-temannya. Rame banget. Gak heran, karena semua fasilitas ini bisa dinikmati FREE!





Saat dinner gue beli Subway di Suria Mall. Akhirnya bisa nyobain juga roti yang sering muncul di drakor ini.

Setelah dari KLCC, gue main bentar ke Pasar Seni. Iya malem-malem hehe, saat udah banyak toko tutup. Gue ada rencana beli sovenir, tapi gue pikir besok pagi aja lah karena gak banyak pilihan juga. Padahal sebenernya Petaling Street juga banyak oleh-oleh tapi gue gak nyaman jalan sendiri kalo untuk nyari oleh-oleh aja.

Jam setengah 9 gue udah sampai di hotel dan makan subway tercinta gue.


Itenarary Day 2
Iten ancur yang mungkin bisa bermanfaat


to be continued...
Newer Posts Older Posts Home

About Me

My photo
Nanda FW
MAN JADDA WA JADA
View my complete profile

POPULAR POSTS

  • Joglosemar Trip 2019 | Part Solo & Semarang
  • Cerita Pendakian Gunung Gede via Gunung Putri
  • Joglosemar Trip 2019 | Part Jogja

Categories

  • #WheretoHike
  • Central Java
  • Malaysia
  • Nature
  • note
  • PARE
  • Tips
  • Traveling

Contact Us

Name

Email *

Message *

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  July (1)
      • Moment to Remember
  • ►  2020 (11)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2017 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2016 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  July (1)

Popular Posts

  • Joglosemar Trip 2019 | Part Solo & Semarang
  • Cerita Pendakian Gunung Gede via Gunung Putri
  • Joglosemar Trip 2019 | Part Jogja
  • #Day1 in Kuala Lumpur | Thean Hou Temple - Bukit Bintang
  • Moment to Remember

Copyright © 2016 Bayangan Awan. Created by OddThemes